Strategi Penjualan Ayam di Masa Pandemi Covid-19

Umi Khamdanah pelaku bisnis UMKM.

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan usaha perdagangan yang dikelola oleh badan usaha perorangan, yang merujuk pada usaha ekonomi produktif sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008.

Salah satu UMKM yang ada yaitu Ayam Bu Umi. Ayam Bu Umi merupakan toko penjualan ayam dan daging yang berada di Desa Panunggalan, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan. Nama pemiliknya adalah Umi Khamdanah.

Ayam Bu Umi ini menyediakan berbagai macam jenis ayam, seperti ayam broiler, ayam kampung, ayam daging, dan berbagai jenis unggas seperti itik, angsa, dan burung dara.

Ayam merupakan kebutuhan lauk-pauk yang diperlukan sebagai pelengkap pangan yang terbilang cukup terjangkau bagi kebanyakan masyarakat Indonesia yang berada di kelas ekonomi menengah kebawah, karena hal tersebut maka permintaan daging ayam sebagai konsumsi manusia semakin meningkat.

Pada saat pandemi permintaan menurun karena terjadi kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Oleh sebab itu masyarakat jarang membeli, karena jarang ada acara hajatan.

Persaingan di dunia bisnis penjualan daging ayam semakin ketat sehingga membuat pelaku bisnis harus mampu memainkan strategi pemasaran yang handal dan mampu memenangkan pasar.

Seorang pemasar sangat mengharapkan akan dapat mempertahankan pelanggannya dalam waktu yang lama. Sebab apabila perusahaan memiliki pelanggan yang loyal, maka hal itu dapat menjadi aset yang bernilai bagi perusahaan (Willi, 2015).

Pelanggan tersebut tidak hanya secara terus menerus menggunakan produk, tetapi dengan sendirinya pelanggan tersebut juga akan merekomendasikan kepada orang lain sesuai dengan pengalam yang di rasakan.

Pelanggan yang loyal secara tidak langsung dapat membantu perusahaan dalam mempromosikan produk kepada orang orang terdekatnya. Tentu saja hal ini akan sangat membantu perusahaan untuk mendapatkan pelanggan baru (Widodo, 2015). Pelanggan yang loyal mempunyai kecenderungan lebih rendah untuk berpindah produk pesaing. Dengan kata lain, orang yang loyal terhadap suatu produk akan setia terhadap produk tersebut (Tarumingkeng, 2019).

Terkait dengan menjadikan pelanggan menjadi loyal, tentunya banyak hal yang perlu diperhatikan antara lain kualitas produk yang akan di beli, harga yang dibebankan pada produk, dan pelayanan yang diperoleh kepada pelanggan. Pada umumnya pelayanan yang bertaraf tinggi akan menghasilkan kepuasan yang tinggi akan menghasilkan kepuasan yang tinggi dan menjadi kan pelanggan yang loyal. Menurut Kotler dan Keller (2012: 48) Selain pelayanan, kualitas produk juga dapat meningkatkan loyalitas pelanggan.

Usaha pemotongan ayam menjadi sektor penting mengingat produk daging ayam yang terus meningkat. Usaha pemotongan ayam tidak terlepas dari beberapa kendala yang dihadapi. Kendala tersebut merupakan hambatan yang cukup kompleks dalam menjalankan usaha, kendala yang dimaksud adalah tingginya tingkat resiko yang dihadapi. Risiko yang dihadapi dalam usaha pemotongan ini adalah risiko usaha baik harga, risiko penjualan, maupun risiko pendapatan.

Namun hal itu tidak menjadi masalah bagi Umi Khamdanah yang berumur 34, merupakan pedagang ayam di pasar beralamat di Desa Panunggalan RT 05 RW 03, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, yang cukup terbilang sukses.

Hal yang melatarbelakangi Umi Khamdanah melakukan usaha menjadi penjual ayam adalah kurangnya ekonomi karna hanya suaminya yang bekerja. Sehingga dengan itu, Umi Khamdanah berinisiatif mencoba untuk berdagang ayam meneruskan usaha yang dijalankan oleh orang tuanya.

Dengan permasalahan tersebut, Umi Khamdanah memberanikan diri untuk melakukan usaha tersebut dan dia melihat peluang bahwa masih jarang yang berjualan ayam di pasaran. Akhirnya Umi Khamdanah melakukan penjualan ayam dari satu pasar ke pasar yang lain, yang dimulai habis subuh sampai jam sepuluh siang.

Selain menjual ayam, Umi Khamdanah juga membuat tempat pemotongan ayam agar kebutuhan masyarakat tidak ribet karena sampai rumah tinggal memasaknya. Tidak hanya ayam yang dijualnya, tapi juga ada itik dan burung dara yang dijualnya ke warung-warung makan yang ada di sekitar Desa Panunggalan.

Umi Khamdanah sudah berjualan sejak tahun 2005, sekitar 16 tahun yang lalu, dia berjualan meneruskan usaha orang tuanya yang sudah berjualan dari tahun 1990. Masyarakat Desa Panunggalan sangat terbantu dengan penjualan ayam yang dilakukan oleh Umi Khamdanah karena menyediakan berbagai fasilitas tempat pemotongan ayam. Seiring berjalannya waktu, Umi Khamdanah melebarkan sayapnya untuk berjualan sampai pasar kunduran yang terletak di Kabupaten Blora.

Untuk menyediakan stok yang dijual ke pasaran, dulunya Umi Khamdanah mencarinya sampai dengan daerah Blitar, tapi sekarang beralih ke daerah Sragen, Ngawi, Tawangmangu, Solo, dan Boyolali. Sudah jarang lagi ngambil ayam dari Blitar. Tetapi jika persedian di daerah Soloraya habis atau belum waktunya dijual, meminta kiriman dari Blitar kembali untuk dikirim ke rumah.

Banyak berbagai jenis ayam yang dijualnya, diantaranya adalah ayam broiler, ayam daging, ayam kampung, dan berbagai jenis unggas lainnya seperti angsa, itik, dan burung dara. Sesuai permintaan konsumen Umi Khamdanah siap melayani. Banyak berbagai jenis ayam yang dipesan oleh konsumen dengan jumlah yang banyak, misalnya ayam broiler yang dipesan untuk acara pernikahan, ada juga ayam daging yang biasanya dipesan oleh penjual fried chicken dan ayam kampung sama itik biasanya dipesan oleh warung-warung ayam bakar di sekitar Kecamatan Pulokulon.

Pada masa pandemi Covid-19 seperti ini, penjualan menurun karena warung-warung pada jarang yang buka, acara pernikahan, khitanan, pengajian umum, sementara tidak dibolehkan, itu yang menyebabkan penjualan menurun.

Ditambah lagi kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, yaitu ada PPKM dan PSBB yang menyebabkan pasar di Blora setiap hari Jumat tutup dan pada hari minggu pasar di Kabupaten Grobogan tutup, sehingga harus merawat ternak-ternak tersebut karena tidak bisa dijual di pasaran dan menyebabkan kerugian karena harus membeli pakan ayam.

Sebelum masa pandemi Covid-19, penjualan cukup ramai, sehari bisa 100 ekor lebih bahkan jika musim acara pernikahan bisa sampai 200 ekor lebih terjual setiap hari.

Untuk menghadapi dampak pandemi Covid-19, Umi Khamdanah banyak melakukan strategi agar usahanya bisa tetap berjalan. Salah satunya dengan menjual eceran kepada konsumen, kemudian juga melakukan potongan harga jika ada yang membeli ayam dalam jumlah banyak, meskipun untungnya sedikit, yang terpenting usahanya tetap bisa berjalan.

Jika tidak melakukan hal tersebut, penjualan ayam bisa tidak laku karena permintaan menurun. Khusus untuk pelanggan setia, juga diberikan potongan harga tersendiri, seperti penjual warung makan lamongan yang setiap hari memesannya. Apalagi masa pandemi Covid-19 memberi dampak besar yang melemahnya konsumsi rumah tangga atau daya beli masyarakat yang disebabkan masalah krisis ekonomi.

Waktu yang paling ramai adalah di awal bulan puasa, selain itu mendekati idul fitri dan idul adha banyak sekali permintaan dari konsumen. Bulan Muharram biasanya di desa banyak acara selamatan atau hajatan sehingga banyak yang membutuhkan ayam dan saat pada acara nikahan juga banyak pesanan, Kalau H-3 sebelum idul fitri orang-orang ingin memasak ayam, bisa sampai 500 ekor per hari terjual.

Selain itu jika warung makan ramai, maka kebutuhan ayam meningkat sehingga menjadikan penjualan naik, kemudian berdampak pada penjualan ayam Umi Khamdanah. Sebelum adanya pandemi Covid-19 ini biasanya Umi Khamdanah mendapatkan omzet delapan juta perbulan, namun adanya pandemi ini, Umi Khamdanah hanya mendapatkan omzet empat sampai lima juta perbulan.

Umi Khamdanah menyampaikan kepada anak muda untuk kedepannya bisa lebih semangat dalam bekerja, kerja keras, pantang menyerah selalu bersyukur dan menikmati pekerjaan yang dilakukannya. Selain itu juga, dia memberikan tiga tips untuk anak muda yang ingin berbisnis, pertama adalah melayani pembeli dengan baik. Sabar, terutama untuk pembeli yang banyak mengajukan pertanyaan.

Kedua jangan putus asa ketika penjualan sepi, semua bisa dimulai memperbaiki dengan memperbanyak berinteraksi dengan pelanggan. Karena pelanggan penting dalam usaha ini sebagai promosi kepada orang-orang terdekatnya. Yang ketiga selalu bersyukur karena penjualan tidak harus selalu ramai.

Kemungkinan tidak hanya penjualan ayam saja yang terkena dampak dari pandemi ini. Menurut Kementerian Koperasi dan UKM mencatat ada sebanyak 67.051 pelaku UMKM yang terkena dampak dari pandemi Covid-19. Ada lima jenis usaha yang paling terkena dampak.

Pertama adalah usaha penyediaan akomodasi makanan dan minuman. Kedua perdagangan besar dan eceran seperti reparasi. Ketiga adalah industri pengolahan. Kemudian, aktivitas jasa lainnya. Kelima yaitu usaha pertanian, kehutanan dan perikanan.

Penyebab utama UMKM terkena dampak dari pandemi Covid-19 lantaran penjualan menurun, sulitnya bahan baku, distribusi terhambat, permodalan dan produksi terhambat. Dia menilai permasalahan itu muncul karena kebijakan PSBB.

Pemerintahan berharap memasuki era new normal atau tatanan hidup baru pebisnis UMKM sudah bisa pulih kembali. Sebab sektor UMKM itu terhitung dapat menyerap total tenaga kerja sebanyak 97 persen di seluruh wilayah indonesia.

“Pada masa pandemi sekarang, adalah sebuah tantangan tersendiri bagi para pengusaha UMKM agar tetap bertahan dan tetap eksis setidaknya tidak sampai gulung tikar,” kata Umi Khamdanah. Membangun bisnis atau usaha bukanlah hal yang mudah dan memerlukan perencanaan yang matang. Jadi adanya pandemi ini kita harus menjalankan usaha, namun sesuai dengan peraturan yang ditetapkan pemerintah.