Buka Festival Jerami di Desa Banjarejo, Ganjar Minta Kades Siapkan Desa Wisata

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menyambangi acara Festival Jerami di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan. (Foto: Diskominfo Grobogan)

Gabus – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyampaikan pemerintah provinsi akan menggelontorkan dana bantuan Rp 1 miliar untuk pengembangan desa wisata bagi daerah yang memiliki manajemen pengelolaan desa wisata yang baik. Hal tersebut disampaikannya saat membuka acara Festival Jerami ke-2 di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan pada Rabu (25/9/2019).

“Ini sedang kita pantau desa wisata di berbagai daerah. Kalau managemen dan pengelolaannya bagus, kemudian pengunjungnya naik terus maka akan saya bantu Rp 1 miliar. Untuk itu, Pak Kades siapkan desa wisatanya supaya dibuat yang menarik dan bisa dapat bantuan dari Pemprov,” terang Ganjar, dikutip dari laman Pemkab Grobogan.

Dalam kesempatan itu, Gubernur memberikan apresiasi khusus terkait pelaksanaan festival jerami yang digagas Kades Banjarejo. “Saya sudah keliling ke banyak daerah tetapi baru kali ini lihat festival jerami. Ini patut dapat acungan empat jempol. Pak Kadesnya juga luar biasa karena punya ide yang kreatif dan inovatif,” katanya.

Sementara itu, Kades Banjarejo Ahmad Taufik mengatakan, acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati ulang tahun Desa Wisata Banjarejo yang ketiga. Festival ini rencananya akan berlangsung hingga 6 Oktober mendatang.

Taufik menambahkan, festival jerami kali ini bertemakan serangga. Dipilih serangga karena hewan ini sangat dekat dengan masyarakat Banjarejo yang mayoritas adalah petani. Meski demikian, ada pula patung jerami yang berbentuk burung, bintang, kereta dan lainnya. Pada tahun lalu, tema festival jerami adalah binatang purba.

Desa Wisata untuk Kesejahteraan Masyarakat

Desa wisata telah menjadi salah satu tren pengembangan pariwisata di Indonesia. Tren ini merupakan respons terhadap motivasi baru dalam berwisata, terutama masyarakat barat. Menurut Guru Besar Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, M.A. M.Phil., Ph.D, wisata ini tidak lagi dilakukan dengan berombongan, cukup kelompok kecil atau individual. Mereka rata-rata berminat pada kehidupan sehari-hari, hal-hal yang unik dan bisa mendapatkan pengalaman baru yang berbeda.

“Kenyamanan akomodasi tidak lagi hal yang penting, asal bisa menginap di desa atau kampung. desa wisata ini mulai terlihat pada tahun 1980-an dan terus meningkat hingga kini,” terangnya melalui laman resmi UGM.

Menurut Heddy Shri Ahimsa, prinsip pengembangan desa wisata bukan sebagai yang terpisah-pisah, namun satu-kesatuan (holistik). Sebab, tujuan utamanya adalah membangun desa wisata yang menyejahterakan winisatawan atau masyarakat yang diwisatai (dikunjungi). “Jadi, wisata itu bukan hanya untuk kesenangannya wisatawan, tapi lebih penting lagi untuk kesejahteraan masyarakat yang diwisatai. Ini perlu keberlanjutan agar kesejahteraan juga berkelanjutan,” tuturnya.

Heddy menilai banyak kelemahan ditemui dalam pengembangan desa wisata selama ini. Banyak pihak belum menentukan tujuan utama pengembangan desa wisata. Mereka pun tidak memandang berbagai pendekatan sebagai satu kesatuan dan tidak memaparkan asumsi-asumsi di balik masing-masing pendekatan. Selain itu, para pelaku desa wisata tidak menempatkan berbagai pendekatan dalam sebuah skala prioritas.

Adapun pendekatan dalam pengembangan desa wisata menurut Heddy, antara lain: pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism), pariwisata berbasis eko wisata (eco tourism), dan pariwisata berbasis komunitas (community-based). Pendekatan lainnya wisata berbasis budaya (culture-based), wisata berbasis good tourism governance, pariwisata berbasis kesesuaian supply and demand dan pengembangan wilayah (regional development).

“Mestinya membuat skala prioritas dari pendekatan yang ada. Urutan bisa disusun dengan asumsi bahwa setiap basis penting, meskipun bobotnya berbeda,” imbuhnya.