Hadiri Festival Semangka, Bupati Tekan Pengembangan Produk Unggulan Daerah

Bupati Grobogan Sri Sumarni saat mengunjungi Festival Semangka di Kecamatan Penawangan. (Foto: Diskominfo Grobogan)

Penawangan – Bupati Grobogan Sri Sumarni mengunjungi acara Festival Semangka di Desa Penawangan, Kecamatan Penawangan, Kabupaten Grobogan. Dalam kunjungan yang dilakukan pada akhir Agustus lalu itu, Bupati mengapresiasi acara dan menekankan pengembangan produk unggulan daerah.

“Saya sangat mendukung kegiatan seperti ini. Selain merupakan upaya untuk mempromosikan hasil pertanian unggulan Kabupaten Grobogan, acara ini juga berpotensi mendukung pariwisata,” katanya dalam keterangan resmi di portal resmi Pemkab Grobogan.

Bupati menyatakan, dari data Dinas Pertanian Grobogan, luas areal semangka tahun 2018 lalu sebanyak 771 hektar dengan total produksi mencapai 13.280 ton. Areal semangka tersebar di Kecamatan Penawangan, Geyer, Ngaringan, Wirosari, Grobogan, Brati, Godong, Tegowanu, Purwodadi, dan Tanggungharjo. Dari areal semangka sebanyak itu, hampir separuhnya berada di Kecamatan Penawangan.

Didampingi pimpinan Forkompinda, anggota DPRD, Kepala OPD, Kepala BUMD, dan para petani semangka, Bupati mengatakan bahwa hasil pertanian seperti semangka merupakan produk unggulan daerah yang harus dikembangkan. Pengembangan produk unggulan ini nantinya diharapkan bisa mendorong peningkatan perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Camat Penawangan Khasan Anwar yang juga bertindak selaku Ketua Panitia Festival Semangka mengungkapkan, festival digelar dalam rangka tasyakuran petani semangka di Kecamatan Penawangan. “Sudah jadi tradisi petani dan pedagang semangka, setiap panen raya selalu mengadakan tasyakuran secara swadaya. Untuk kali ini pelaksanaannya dibikin beda, yakni dengan menggelar Festival Semangka Grobogan,” katanya.

Kembangkan Produk Unggulan dengan Model Klaster Inovasi

Potensi ekonomi dari produk unggulan yang ada di daerah memang merupakan hal penting untuk dikembangkan. Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengamini hal tersebut, dan menurutnya, strategi pembangunan di daerah harus difokuskan pada pengembangan potensi bisnis yang berbasis pada produk unggulan daerah (PUD). Pengembangan potensi daerah dituntut untuk berinovasi yang berasal dari riset yang dapat dikomersialkan. Berbagai PUD yang bisa dikembangkan antara lain komoditas pertanian, perkebunan, kehutanan, hortikultura, hingga industri kreatif.

Menurut Mantan Rektor Universitas Diponegoro itu, inovasi pengembangan PUD mampu memacu daya saing nasional. Sebab, tingkat daya saing nasional dibentuk dan didukung oleh kemampuan daya saing daerah yang memiliki karakteristik aktivitas ekonomi, infrastruktur, sumber daya alam, kearifan lokal, serta kualitas sumber daya manusia yang beragam. Namun demikian, pengembangan ekonomi daerah yang berbasis iptek dan inovasi harus sesuai dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

“Dalam pengembangan riset di daerah, industri harus diajak bicara. Industri butuh apa, potensi alam daerah apa,” terang Nasir, dilansir dari laman Kemenristekdikti. Ia berharap, pertumbuhan riset dan inovasi di daerah baik secara langsung maupun tidak langsung dapat meningkatkan taraf kesejahteraan dan tingkat perekonomian masyarakat di daerah.

Sementara itu, Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Jumain Appe meminta agar daerah mengembangkan PUD dengan model klaster inovasi, yakni dengan mendorong kolaborasi dan sinergi peran serta fungsi para inovator. Pendekatan model klaster inovasi dilakukan melalui peningkatan peran perguruan tinggi. “Perguruan tinggi dapat menjadi pusat unggulan yang menghasilkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan industri di daerah domisili. Perguruan Tinggi harus menjadi agent of region economic development,” tuturnya.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga harus berperan merangsang pertumbuhan investasi serta menciptakan iklim usaha yang kondusif. “Komunitas sebagai pemakai barang dan jasa harus menyadari pentingnya memakai produk dalam negeri,” kata dia.