Berburu Kuliner Tradisional di Pasar Kalangon

Beragam kuliner tradisional khas Kabupaten Grobogan bisa ditemui di Pasar Kalangon. (Foto: Pasar Kalangon)

Kradenan – Di Desa Kradenan, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, ada pasar unik bernuansa jadul. Surganya kuliner tradisional Grobogan yang hanya buka di pekan pertama dan ketiga saban bulannya itu menggunakan uang dari bambu untuk kegiatan bertransaksi.

Namanya Pasar Kalangon, terletak di tepi waduk, berjarak sekira 18 kilometer dari pusat Kabupaten Grobogan. Istilah Pasar Kalangon diambil dari nama sebuah waduk, yaitu Waduk Nglangon. Di pasar jadul ini sangat kental dengan kearifan lokal, mulai dari letaknya di tepian waduk, lapak jualan dari anyaman bambu, bungkus makanan menggunakan daun, sampai petugas pengelola yang menggunakan pakaian adat.

Sambil menikmati pemandangan alam sekitar, pengunjung bisa menyantap beragam kuliner tradisional di pasar ini, seperti pecel, soto, sate, kue putu, olahan ubi, dan masih banyak lagi. Tapi jangan lupa, sebelum membeli segala kebutuhan perut itu, pengunjung harus terlebih dahulu menukarkan uang rupiah dengan uang bambu yang telah disediakan petugas pengelola pasar. Satu keping uang bambu memiliki nilai Rp 2 ribu.

Penggagas Pasar Kalangon Salma Istianahar mengatakan, pihaknya tidak membatasi jumlah nominal yang ditukarkan pengunjung untuk bertransaksi. “Satu koin boleh, banyak bebas. Rata-rata pengunjung menukarkan uang Rp 20 ribu. Tapi yang lebih besar juga banyak,” kata Salma.

Dari hasil catatannya, para penjual makanan di Pasar Kalangon bisa memperoleh Rp 150 ribu sampai Rp 2 juta tiap kali buka. Adapun jumlah penjual kuliner di pasar tersebut sekitar 40 orang. Sama seperti panitia, semua penjual di lokasi tersebut merupakan warga desa setempat. Hal itu menurut Salma merupakan wujud pemberdayaan penduduk desa.

Pasar Digital Berkelanjutan

Salma mengaku, gagasan Pasar Kalangon mencontoh dari Pasar Papringan di Temanggung, kemudian dimodifikasi dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada. Pasar Kalangon berada di bawah pengelolaan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Pesona.

Dikatakannya, untuk promosi murni dilakukan dengan memanfaatkan media sosial. Tidak heran jika tempat tersebut juga dikenal sebagai Pasar Digital Kalangon. “Promosi selain dari mulut ke mulut ya dari media sosial. Ada Facebook, Instagram, Twitter, Youtube,” urai Salma.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Tjahya Widianti menyebut bahwa pasar rakyat digital tidak sekadar memanfaatkan teknologi digital dalam hal promosi, tetapi juga didukung dengan adanya pengembangan apliksai daring seperti E-Retribusi dan E-Payment untuk mempermudah pemantauan omzet pasar.

“Pengembangan aplikasi daring ini merupakan transformasi digital pasar rakyat. Dengan melakukan pemantauan omzet secara daring diharapkan dapat membuat sistem kerja pasar rakyat menjadi lebih mudah, tepat, dan efisien,” jelas Tjahya dalam laman resmi Sekretariat Kabinet RI.

Selain perihal pemantauan omzet dan promosi, sustainable (berkelanjutan) sebuah destinasi digital merupakan hal yang tidak boleh dilewatkan. Pengelola Pasar Karetan dan Pasar Semarangan Mei Kristanti membeberkan ada beragam treatment agar destinasi digital menjadi sustain, salah satunya yaitu dengan merangkul masyarakat dan pedagang. Untuk itu, dibutuhkan manajemen yang baik.

“Kita harus merangkul pedagang yang berasal dari masyarakat sekitar, karena mereka juga tidak boleh menurunkan kualitas dagangan,” terang Mei. Menurutnya, pedagang yang mengalami penurunan kualitas perlu ditegur supaya tidak mengulangi hal serupa. Hanya saja, teguran tidak dilakukan di depan umum, melainkan setelah acara selesai.

Selain itu, venue juga menjadi bagian penting yang perlu ditonjolkan. Menurut Mei, keindahan venue harus dijaga agar memberi kesan instagramable, sehingga pengunjung bisa terus berfoto dengan nyaman. “Selain tentunya ada acara yang bisa menarik orang untuk datang,” ujar Mei.